MENGGAPAI MIMPI
Dag dig dug...!!!. Semuanya terasa gelisah, hati terasa
tidak tenang menunggunya. Lama sekali hingga peluh bercucuran. Waktu
menunjukkan pukul 16.00 WIB, inilah saatnya. Tetapi mengapa tak kunjung juga.
Kembali menunggu setengah jam, dan akhirnya....
“Alhamdulillah
ya Allah... aku LULUS. Yeeee...”
Betapa
senangnya hatiku, tak hentinya ku ucap syukur kepadaNya. Hal yang lebih
membahagiakan adalah, sekolahku 100% dinyatakan lulus. Alhamdulillah...
Setelah
pengumuman sebagian teman-teman berangkatlah untuk mencorat-coret putih
abu-abunya. Awalnya aku tertarik pas diajak, tapi biarlah.. aku tidak jadi
ikut, karna waktunya sudah larut pula, ku putuskan untuk pulang.
Ku rebahkan sejenak rasa penat
yang melanda tubuhku. Capek sekali menunggu pengumuman tadi, lama. Baru
sebentar...
“Allahu akbar,
Allahu akbar..”
Suara indah itu
hadir dan menghilangkan segala rasa penatku. Apalagi mushola dekat sekali
dengan rumahku hanya menyeberang jalan kampung yang tak begitu lebar jadi,
suaranya terdengar begitu keras. Meski mushola dekat dari rumah, tapi aku tidak
pernah ikut sholat berjama’ah, hehe...
Di sisi lain
alasannya karna aku perempuan, dan alasan yang lain pula karna aku juga jarang
keluar rumah. Semua itu sebab tiga tahun aku MTs di luar kota, lalu selama tiga
tahun MA hingga lulus aku masih tak banyak mengenal warga sekitar di tambah
lagi teman-temanku SD yang cewek sudah pada nikah. Jadi ya, tak banyaklah
temanku. Menyebalkan bukan ?
Bergegas ku
ganti putih abu-abuku dengan celana aladin panjang hitam dan kaos oblong
putihku. Ku lakukan rutinitas biasaku, ambil air wudhu ,sholat, membaca
ayat-ayat suci al-quran.
Fajar yang cukup dingin dengan diiringi kokok ayam untuk membangunkan para
muadzin mengumandangkan tibanya waktu subuh.
Pagi ini aku pergi
ke sekolah untuk melihat pengumuman apakah aku di terima di perguruan tinggi
atau tidak ? dan semoga aku diterima, aminnn...
“Zahra, selamat
ya, traktiran donk ...” ujar teman-teman sambil menyalamiku.
Aku benar-benar
bingung dengan tingkah mereka. Padahal hari ulang tahunkukan sudah lewat 2
bulan lalu, aneh.
“maksudnya apa
? aku benar-benar bingung, kok ada acara minta traktiran pula. Memangnya ada
apa sih ?”
“aduh... masa
belum tau sih ra, cepetan sana lihat pengumuman di mading.”
Aku berlari
menuju mading, terdapat secarik kertas dengan nama-nama siswa yanng diterima
diperguruan tinggi negeri jalur undangan. Setelah ku amati satu persatu
nama-nama yang terdapat di kertas tersebut.
Glekk... aku
kaget.
“Alhamdulillah
ya Allah... aku diterima...” ujarku pelan.
Betapa
senangnya aku bisa diterima di perguruan tinggi terbaik di kota dan di provinsi
tempat aku tinggal. Aku benar-benar bersyukur.
Ternyata ini
sebabnya mereka pada nyalamin aku dan minta traktiran.
Aduh..
sayangnya aku lagi bokek, hehe.. Aku hanya bisa meminta maaf pada teman-teman
karena tidak bisa mentraktir mereka.
Ku ambil motor di parkiran, ku
nyalakan mesin dan aku gas motor matic hijau ku. Awan yang tadinya putih lama
kelamaan berubah menjadi mendung. Semoga aku tidak kehujanan di jalan. Aku gas
kencang motorku.
Seperti biasa
rumah masih sepi, semuanya sibuk sendiri. Padahal hari ini aku begitu senang
karena aku bisa diterima di perguruan tinggi yang terbaik, dan aku mau bilang
pada ayah tentang kabar gembira ini. Tapi, ayah belum pulang, mau tidak mau aku
menunggu ayah pulang dulu. Sendiri aku di rumah, dengan ditemani lagu yang aku
putar lewat hp. Hujan turun, ikut menemani kesendirianku pula hingga akupun
tertidur
Perlahan ku
buka mata, ternyata sudah sore dan ayah baru saja pulang. Aku bergegas
mendatangi ayah.
“Ayah.. aku diterima di perguruan tinggi yang
ayah inginkan.” Ujarku.
“Alhamdulillah..
Zahra memang anak ayah yang hebat.” Kata ayah.
Ayah memang
menginginkan aku bisa kuliah di perguruan tinggi tersebut, dan aku senang bisa
mewujudkannya. Alhamdulillah..
Padahal ini sudah malam, tapi
kakakku Bayu belum pulang juga. Aku tidak kaget dengan hal semacam ini. Kakakku
adalah seorang mahasiswa, tapi sikapnya tidak mencerminkan sebagai seorang
pelajar. Ia jarang pulang, kalaupun pulang juga larut malam. Entahlah, apa saja
yang ia lakukan hingga jarang pulang. Apa lagi setelah ayah membelikannya motor
baru, semakin menjadi-jadi lah kakakku.
Begitu pula
dengan bunda, begitu egois tidak pernah mengurus anak-anaknya. Bunda hanya
sibuk sendiri dengan urusannya. Bunda cuma bisa menghabiskan uang, dengan
arisan, shopping lah.
Ayahpun juga
seperti itu, sibuk dengan pekerjaannya.
Terkadang aku
capek dengan semua ini, terkadang pula aku menangis sendiri di kamarku
memikirkan keluargaku. Aku sangat sedih dengan keadaan ini. Kapankah mereka
bisa meninggalkan kesibukan mereka sejenak dan berkumpul bersama-sama. Aku
sangat merindukan saat-saat seperti itu.
Hari ini adalah pengumuman
berapa uang kuliah yang dibayarkan untuk setiap jurusan. Ku buka nominal
pembayaran uang kuliah ku.
Wow.. banyak
sekali yang harus dibayarkan. Ku beritahukan hal ini kepada ayah. Wajahnya
sejenak berubah menjadi masam, mungkin bila dirasakan rasanya lebih masam dari
buah asam. Tidak ada respon apapun dari ayah setelah aku beritahu, tapi ayah
malah beranjak pergi dariku. Dalam hati aku bertanya-tanya,
“apakah ada
yang salah dengan perkataanku ?”
“apa aku
mengganggu ayah ?”
“atau mungkin
ayah sedang banyak pikiran ?”. Aku benar-benar bingung.
Aku meminta maaf
pada ayah dan sikapnya sama seperti tadi hanya diam tak menjawab, dan aku
merasa sangat bersalah pada ayah.
“harusnya aku
tadi tidak memberitahukannya pada ayah..”gumamku dalam hati.
Ayah masih diam padaku, dan aku
masih penasaran dengan diamnya. Hal apakah yang terdapat dipikiran ayah ?.
Biasanya jika ayah sedang ada masalah selalu bilang pada ku, tapi kenapa kali
ini ayah hanya diam, ayah tidak pernah seperti ini padaku. Apa mungkin benar
aku sudah membuat ayah marah ?. Tapi aku kan sudah meminta maaf padanya, masa
ayah tidak mau memaafkan aku. Karena rasa penasaranku sudah meluap akupun
bertanya pada kakak,
“kak, ayah
kenapa sih ?”
“mana tau, loe
kan anak kesayangannya ngapain nanya sama gue.”
“kakak jahat
banget sih, kan aku cuma nanya ga usah nyolot juga kali..!”
“salah sendiri,
kenapa ganggu gue ?”
“huhh....”.
Karena kesal
kesal ku hentakkan kakiku di lantai, aduh..ternyata sakit juga. Tapi rasa sakit
itu tidak terasa olehku karena rasa kesalku pada kakak satu yang nyebelin
banget itu. Aku nyesel sudah bertanya padanya, kenapa tadi aku malah bertanya
padanya toh percuma juga.
Tiba-tiba ayah mendatangi ku di
kamar. Aku senang, tapi aku juga bertanya-tanya dalam hati.
“Zahra, maafkan
ayah.”
“kenapa ayah
minta maaf, harusnya kan Zahra yang meminta maaf karena Zahra yang salah.”
“kamu tidak
salah apa-apa nak, tapi ayah yang salah.”
“tapi Zahra
rasa ayah tidak salah apapun pada Zahra.”
“Zahra, ayah
mau ngomong sama kamu.”
“ngomongin soal
apa yah, bilang ja.”
“ayah sangat
senang karena kamu bisa diterima di universitas terbaik, tapi jika tahun ini
Zahra tidak kuliah dulu gimana ?”
Glekk.. kenapa
ayah bilang begitu ? bukankah ayah menginginkan hal ini ?
“tapi kenapa
ayah ? bukankah ayah menginginkan hal ini juga ?”
“terpaksa ayah
harus bilang padamu nak. Bunda mu terlibat hutang, kartu kreditnya sudah gemuk,
dan ayah tadi baru saja mendapat kabar kalau kakak kamu kecelakaan karena
balapan motor.”
Seketika pupus
harapan ku untuk menggapai impian. Kuliah di universitas yang aku inginkan
sirna.
“Oh, iya udah
yah Zahra tidak apa-apa kok kalau uang buat kuliah Zahra dipakai dulu.”
“maafkan ayah
nak, tapi ayah akan usahakan untuk mencari uang buat kuliah kamu.”
“tidak usah
yah, Zahra tidak apa-apa.”
Ayah keluar
dari kamarku, dan aku langsung menangis tersedu-sedu. Impianku sirna, padahal
aku sudah diterima, tinggal satu langkah lagi. Aku terus menangis,aku kesal, aku
harus bagaimana ? aku harus menyalahkan siapa ? apa impianku benar-benar tak
bisa lagi ku gapai ?. Ya Allah, beri aku pertolongan...
Pyarr.. ku dengar seperti suara
beling pecah, aku turun dari tangga dan sejenak aku berhenti sebelum sampai di
lantai bawah kemudian duduk di tangga. Aku melihat..
“kenapa ayah
bersikeras buat menguliahkan Zahra ? padahal keadaan ekonomi kita sedang buruk,
di tambah lagi Bayu yang sekarang di rumah sakit. Suruh aja Zahra kerja biar
bisa dapat duit ?”
“kenapa bunda
berkata seperti itu ? Zahra itu anakku dan aku berhak menentukan apa yang
terbaik untuknya.”
“alah.. belain
aja terus tu anak kamu !”
“semua ini juga
kesalahan bunda, kenapa bunda biarkan kartu kredit gemuk ? buat apa saja
uangnya ?”
“alah..
udahlah, ayah tidak usah ngurusin urusan bunda. Lebih baik bunda pergi!”
Ayah hanya
terduduk di sofa melihat bunda pergi. Kasihan sekali ayah.
Aku berlari
menuju kamar dan duduk di jendela kamarku. Aku kembali menangis sambil melihat
bulan purnama yang mulai tertutupi oleh awan mendung. Ku tadahkan tanganku,
“ya Allah,
kasihan ayah.. berikanlah ayah kekuatan serta kekuatan dalam menghadapi cobaan
ini, semoga kak Bayu cepat sembuh, dan berikanlah hidayahMu pada bunda..
amin..”
Aku hanya bisa
menangis dengan keadaan ini. Apakah aku tidak akan bisa menggapai impian ku ?
Awan mendungpun menutupi bulan
serta langit yang gelap, dan perlahan awan mendung menjatuhkan air sedikit demi
sedikit. Hingga basahlah tanah di bumi beserta pipiku yang basah oleh air mata.
Aku hanya bisa
berharap semoga aku bisa, menggapai impian ku.