Sabtu, 08 Maret 2014

Menggapai Mimpi



MENGGAPAI MIMPI
                Dag dig dug...!!!. Semuanya terasa gelisah, hati terasa tidak tenang menunggunya. Lama sekali hingga peluh bercucuran. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, inilah saatnya. Tetapi mengapa tak kunjung juga. Kembali menunggu setengah jam, dan akhirnya....
“Alhamdulillah ya Allah... aku LULUS. Yeeee...”
Betapa senangnya hatiku, tak hentinya ku ucap syukur kepadaNya. Hal yang lebih membahagiakan adalah, sekolahku 100% dinyatakan lulus. Alhamdulillah...
Setelah pengumuman sebagian teman-teman berangkatlah untuk mencorat-coret putih abu-abunya. Awalnya aku tertarik pas diajak, tapi biarlah.. aku tidak jadi ikut, karna waktunya sudah larut pula, ku putuskan untuk pulang.
                Ku rebahkan sejenak rasa penat yang melanda tubuhku. Capek sekali menunggu pengumuman tadi, lama. Baru sebentar...
“Allahu akbar, Allahu akbar..”
Suara indah itu hadir dan menghilangkan segala rasa penatku. Apalagi mushola dekat sekali dengan rumahku hanya menyeberang jalan kampung yang tak begitu lebar jadi, suaranya terdengar begitu keras. Meski mushola dekat dari rumah, tapi aku tidak pernah ikut sholat berjama’ah, hehe...
Di sisi lain alasannya karna aku perempuan, dan alasan yang lain pula karna aku juga jarang keluar rumah. Semua itu sebab tiga tahun aku MTs di luar kota, lalu selama tiga tahun MA hingga lulus aku masih tak banyak mengenal warga sekitar di tambah lagi teman-temanku SD yang cewek sudah pada nikah. Jadi ya, tak banyaklah temanku. Menyebalkan bukan ?
Bergegas ku ganti putih abu-abuku dengan celana aladin panjang hitam dan kaos oblong putihku. Ku lakukan rutinitas biasaku, ambil air wudhu ,sholat, membaca ayat-ayat suci al-quran.
Fajar yang cukup dingin dengan diiringi kokok ayam untuk membangunkan para muadzin mengumandangkan tibanya waktu subuh.
Pagi ini aku pergi ke sekolah untuk melihat pengumuman apakah aku di terima di perguruan tinggi atau tidak ? dan semoga aku diterima, aminnn...
“Zahra, selamat ya, traktiran donk ...” ujar teman-teman sambil menyalamiku.
Aku benar-benar bingung dengan tingkah mereka. Padahal hari ulang tahunkukan sudah lewat 2 bulan lalu, aneh.
“maksudnya apa ? aku benar-benar bingung, kok ada acara minta traktiran pula. Memangnya ada apa sih ?”
“aduh... masa belum tau sih ra, cepetan sana lihat pengumuman di mading.”
Aku berlari menuju mading, terdapat secarik kertas dengan nama-nama siswa yanng diterima diperguruan tinggi negeri jalur undangan. Setelah ku amati satu persatu nama-nama yang terdapat di kertas tersebut.
Glekk... aku kaget.
“Alhamdulillah ya Allah... aku diterima...” ujarku pelan.
Betapa senangnya aku bisa diterima di perguruan tinggi terbaik di kota dan di provinsi tempat aku tinggal. Aku benar-benar bersyukur.
Ternyata ini sebabnya mereka pada nyalamin aku dan minta traktiran.
Aduh.. sayangnya aku lagi bokek, hehe.. Aku hanya bisa meminta maaf pada teman-teman karena tidak bisa mentraktir mereka.
                Ku ambil motor di parkiran, ku nyalakan mesin dan aku gas motor matic hijau ku. Awan yang tadinya putih lama kelamaan berubah menjadi mendung. Semoga aku tidak kehujanan di jalan. Aku gas kencang motorku.
Seperti biasa rumah masih sepi, semuanya sibuk sendiri. Padahal hari ini aku begitu senang karena aku bisa diterima di perguruan tinggi yang terbaik, dan aku mau bilang pada ayah tentang kabar gembira ini. Tapi, ayah belum pulang, mau tidak mau aku menunggu ayah pulang dulu. Sendiri aku di rumah, dengan ditemani lagu yang aku putar lewat hp. Hujan turun, ikut menemani kesendirianku pula hingga akupun tertidur
Perlahan ku buka mata, ternyata sudah sore dan ayah baru saja pulang. Aku bergegas mendatangi ayah.
 “Ayah.. aku diterima di perguruan tinggi yang ayah inginkan.” Ujarku.
“Alhamdulillah.. Zahra memang anak ayah yang hebat.” Kata ayah.
Ayah memang menginginkan aku bisa kuliah di perguruan tinggi tersebut, dan aku senang bisa mewujudkannya. Alhamdulillah..
                Padahal ini sudah malam, tapi kakakku Bayu belum pulang juga. Aku tidak kaget dengan hal semacam ini. Kakakku adalah seorang mahasiswa, tapi sikapnya tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar. Ia jarang pulang, kalaupun pulang juga larut malam. Entahlah, apa saja yang ia lakukan hingga jarang pulang. Apa lagi setelah ayah membelikannya motor baru, semakin menjadi-jadi lah kakakku.
Begitu pula dengan bunda, begitu egois tidak pernah mengurus anak-anaknya. Bunda hanya sibuk sendiri dengan urusannya. Bunda cuma bisa menghabiskan uang, dengan arisan, shopping lah.
Ayahpun juga seperti itu, sibuk dengan pekerjaannya.
Terkadang aku capek dengan semua ini, terkadang pula aku menangis sendiri di kamarku memikirkan keluargaku. Aku sangat sedih dengan keadaan ini. Kapankah mereka bisa meninggalkan kesibukan mereka sejenak dan berkumpul bersama-sama. Aku sangat merindukan saat-saat seperti itu.
                Hari ini adalah pengumuman berapa uang kuliah yang dibayarkan untuk setiap jurusan. Ku buka nominal pembayaran uang kuliah ku.
Wow.. banyak sekali yang harus dibayarkan. Ku beritahukan hal ini kepada ayah. Wajahnya sejenak berubah menjadi masam, mungkin bila dirasakan rasanya lebih masam dari buah asam. Tidak ada respon apapun dari ayah setelah aku beritahu, tapi ayah malah beranjak pergi dariku. Dalam hati aku bertanya-tanya,
“apakah ada yang salah dengan perkataanku ?”
“apa aku mengganggu ayah ?”
“atau mungkin ayah sedang banyak pikiran ?”. Aku benar-benar bingung.
Aku meminta maaf pada ayah dan sikapnya sama seperti tadi hanya diam tak menjawab, dan aku merasa sangat bersalah pada ayah.
“harusnya aku tadi tidak memberitahukannya pada ayah..”gumamku dalam hati.
                Ayah masih diam padaku, dan aku masih penasaran dengan diamnya. Hal apakah yang terdapat dipikiran ayah ?. Biasanya jika ayah sedang ada masalah selalu bilang pada ku, tapi kenapa kali ini ayah hanya diam, ayah tidak pernah seperti ini padaku. Apa mungkin benar aku sudah membuat ayah marah ?. Tapi aku kan sudah meminta maaf padanya, masa ayah tidak mau memaafkan aku. Karena rasa penasaranku sudah meluap akupun bertanya pada kakak,
“kak, ayah kenapa sih ?”
“mana tau, loe kan anak kesayangannya ngapain nanya sama gue.”
“kakak jahat banget sih, kan aku cuma nanya ga usah nyolot juga kali..!”
“salah sendiri, kenapa ganggu gue ?”
“huhh....”.
Karena kesal kesal ku hentakkan kakiku di lantai, aduh..ternyata sakit juga. Tapi rasa sakit itu tidak terasa olehku karena rasa kesalku pada kakak satu yang nyebelin banget itu. Aku nyesel sudah bertanya padanya, kenapa tadi aku malah bertanya padanya toh percuma juga.
                Tiba-tiba ayah mendatangi ku di kamar. Aku senang, tapi aku juga bertanya-tanya dalam hati.
“Zahra, maafkan ayah.”
“kenapa ayah minta maaf, harusnya kan Zahra yang meminta maaf karena Zahra yang salah.”
“kamu tidak salah apa-apa nak, tapi ayah yang salah.”
“tapi Zahra rasa ayah tidak salah apapun pada Zahra.”
“Zahra, ayah mau ngomong sama kamu.”
“ngomongin soal apa yah, bilang ja.”
“ayah sangat senang karena kamu bisa diterima di universitas terbaik, tapi jika tahun ini Zahra tidak kuliah dulu gimana ?”
Glekk.. kenapa ayah bilang begitu ? bukankah ayah menginginkan hal ini ?
“tapi kenapa ayah ? bukankah ayah menginginkan hal ini juga ?”
“terpaksa ayah harus bilang padamu nak. Bunda mu terlibat hutang, kartu kreditnya sudah gemuk, dan ayah tadi baru saja mendapat kabar kalau kakak kamu kecelakaan karena balapan motor.”
Seketika pupus harapan ku untuk menggapai impian. Kuliah di universitas yang aku inginkan sirna.
“Oh, iya udah yah Zahra tidak apa-apa kok kalau uang buat kuliah Zahra dipakai dulu.”
“maafkan ayah nak, tapi ayah akan usahakan untuk mencari uang buat kuliah kamu.”
“tidak usah yah, Zahra tidak apa-apa.”
Ayah keluar dari kamarku, dan aku langsung menangis tersedu-sedu. Impianku sirna, padahal aku sudah diterima, tinggal satu langkah lagi. Aku terus menangis,aku kesal, aku harus bagaimana ? aku harus menyalahkan siapa ? apa impianku benar-benar tak bisa lagi ku gapai ?. Ya Allah, beri aku pertolongan...
                Pyarr.. ku dengar seperti suara beling pecah, aku turun dari tangga dan sejenak aku berhenti sebelum sampai di lantai bawah kemudian duduk di tangga. Aku melihat..
“kenapa ayah bersikeras buat menguliahkan Zahra ? padahal keadaan ekonomi kita sedang buruk, di tambah lagi Bayu yang sekarang di rumah sakit. Suruh aja Zahra kerja biar bisa dapat duit ?”
“kenapa bunda berkata seperti itu ? Zahra itu anakku dan aku berhak menentukan apa yang terbaik untuknya.”
“alah.. belain aja terus tu anak kamu !”
“semua ini juga kesalahan bunda, kenapa bunda biarkan kartu kredit gemuk ? buat apa saja uangnya ?”
“alah.. udahlah, ayah tidak usah ngurusin urusan bunda. Lebih baik bunda pergi!”
Ayah hanya terduduk di sofa melihat bunda pergi. Kasihan sekali ayah.
Aku berlari menuju kamar dan duduk di jendela kamarku. Aku kembali menangis sambil melihat bulan purnama yang mulai tertutupi oleh awan mendung. Ku tadahkan tanganku,
“ya Allah, kasihan ayah.. berikanlah ayah kekuatan serta kekuatan dalam menghadapi cobaan ini, semoga kak Bayu cepat sembuh, dan berikanlah hidayahMu pada bunda.. amin..”
Aku hanya bisa menangis dengan keadaan ini. Apakah aku tidak akan bisa menggapai impian ku ?
                Awan mendungpun menutupi bulan serta langit yang gelap, dan perlahan awan mendung menjatuhkan air sedikit demi sedikit. Hingga basahlah tanah di bumi beserta pipiku yang basah oleh air mata.
Aku hanya bisa berharap semoga aku bisa, menggapai impian ku.